Rabu, 20 Maret 2013

Oik anak Cadel "special SS"


Oik anak cadel
-Part 1-


mentari sudah berlalu, tanah itu masih sama seprti kemarin masih basah. Hari ini adalah hari pkedua cakka tidak ada disamping Oik. Perasaannya masih sama. Sakit, kosong, dan kehilangan. Rasanya tidak ada lagi kehidupan dimata oik. Oik kembali melangkah kearah tanah basah itu, sambil mengelus batu nisan Cakka. "kka, lo kok ninggalin gue sendili disni, lo kan tau gue ggak bisa hidup tanpa lo, apa lo sengaja ninggalin gue sendili disini. Please kembali kka, gue butuh elo" ujar oik seketika air matanya tumpah ruah dipipinya, membasahi gundukan tanah basah itu. Seketika gundukan tanah basah itu bergetar. Dan oik terkejut melihat gundukan tanah itu setelah getaran tadi. "...." 

Oik anak cadel
-part 2-


gundukan tanah itu seketika membentuk garis , lalu mebelah pelahan lahan, sehingga menampilkan sosok yang sangat dirindui oik. Oik membelalak kaget. "Ini tidak mungkin teljadi. Pasti aku sedang bermimpi." oik pun mencubit kedua tangannya. "aauuww" ... Sosok yang sangat oik rindui itu bangun dari tidurnya lalu menatap oik dengan sangat tajam. "ca...kk..aa" ujar oik terbata. Cakka masih menatapnya dengan sorot mata yang sangat mengerikan. Mata elangnya yang dulu penuh dengan warna abu abu yang mengartikan bahwa cakka dulunya itu adalah sosok yang 'netral'. Tapi siap sosok ini, kenapa dia sangat mirip dengan cakka. Tapi matanya bukan seperti mata cakka yang biasanya. Oik lalu mengarahkan kedalam kubur cakka. Ternyata ini memang cakka, pemuda yang sangat dicintainya, tapi kenapa sosok yang sudah meninggal bisa bangun kembali. Oik tidak percaya dengan apa yang terjadi sekarang dodepan matanya.


Minggu, 17 Maret 2013

Fatin -pumped up kicks

Robert's got a quick hand.
He'll look around the room, he won't tell you his plan.
He's got a rolled cigarette, hanging out his mouth he's a cowboy kid.Yeah, he found a six shooter gun.
In his dad's closet hidden with a box of fun things, and I don't even know what.
But he's coming for you, yeah he's coming for you.

[Chorus: x2]
All the other kids with the pumped up kicks you'd better run, better run, outrun my gun.
All the other kids with the pumped up kicks you'd better run, better run, faster than my bullet.

Daddy works a long day.
He'll be coming home late, he's coming home late.
And he's bringing me a dark surprise.
'Cause dinner's in the kitchen and it's packed in ice.
I've waited for a long time.
Yeah the sleight of my hand is now a quick-pull trigger,
I reason with my cigarette,
And say your hair's on fire, you must have lost your wits, yeah.

[Chorus: x2]
All the other kids with the pumped up kicks you'd better run, better run, outrun my gun.
All the other kids with the pumped up kicks you'd better run, better run, faster than my bullet.

[Whistling]

[Chorus: x3]
All the other kids with the pumped up kicks you'd better run, better run, outrun my gun.
All the other kids with the pumped up kicks you'd better run, better run, faster than my bullet.

Sabtu, 16 Maret 2013

Harry Potter And The Pilosopher Stone


Harry Potter Dan Batu Bertuah

1. Anak Laki Laki Yang Bertahan Hidup
Mr dan Mrs Dursley yang tinggal di Privet Drive nomer empat bangga menyatakan diri mereka orang-orang yang normal, untunglah. Mereka tak bisa di harapkan terlibat dengan sesuatu yang ajaib atau misterius, karena mereka sama sekali tidak percaya omong kosong seperti itu.Mr Dursley adalah direktur Grunnings, perusahaan yang memproduksi bor. Dia laki-laki yang besar gemuk, nyaris tanpa leher, walaupun kumisnya besar sekali. Mrs Durslety berambut pirang, lehernya dua lili panjang leher biasa. Baginya ini menguntungkan, karena kegemarannya adalah menjulurkan leher di alas pagar-pagar, untuk mengintip para tetangga. Suami istri Dursley mempunyai seorang anak lelaki kecil bernama Dudley dan menurut pendapat mereka, didunia ini tidak ada anak lain sehebat Dudley.
Keluarga Dursley memiliki segalanya yang mereka inginkan, tetapi mereka juga punya rahasia, dan ketakutan terbesar mereka adalah, kalau ada orang yang mengetahui rahasia ini.
Mereka pikir mereka pasti lak tahan kalau sampai ada yang tahu tentang keluarga Potter. Mrs Potter adalah adik Mrs Dursley, tetapi sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu. Mrs Dursley malah berpura-pura tidak punya adik, karena adiknya dan suaminya yang tak berguna itu tak layak sama sekali menjadi kerabat keluarga Dursley. Mr dan Mrs DumJey bergidik memikirkan apa kata tetangga mereka jika keluarga Potter muncul di jalan mereka. Keluarga Dursley tahu bahwa keluarga Potter juga punya seorang anak laki-laki kecil, tetapi mereka belum pernah melihatnya. Anak ini salah satu alasan bagus lain kenapa mereka tak mau dekat-dekat keluarga Potter. Mereka tak ingin Dudley bergaul dengan anak seperti itu. Ketika Mr dan Mrs Dursley bangun pada hari Selasa pagi yang mendung saat cerita kita ini mulai, tak ada tanda-tanda di langit berawan di luar bahwa akan terjadi hal-hal misterius dan aneh di seluruh negeri. Mr Dursley bersenandung ketika dia mengambil dasinya yang sangat membosankan untuk dipakainya bekerja, dan Mrs Dursley bergosip riang seraya berkutat dengan Dudley yang menjerit-jerit dan mendudukkan anak itu di kursinya yang tinggi.
Tak seorang pun dari mereka melihat seekor burung hantu besar kuning kecokelatan terbang melintasi jendela.
Pukul setengah sembilan Mr Dursley memungut tas kerjanya, mengecup pipi Mrs Dursley dan mencoba mengecup Dudley, tapi gagal, sebab sekarang Dudley ngadat dan melempar-lempar serealnya ke dinding. "Dasar anak-anak," senyum Mr Dursley sambil masuk ke mobilnya dan memundurkannya keluar dari garasi rumah nomor empat.
Di sudut jalanlah pertama kalinya dia menyadari ada suatu yang aneh—seekor kucing membaca peta. Sekejap Mr Dursley tidak menyadari apa yang telah dilihatnya—kemudian dia menoleh untuk melihat sekali lagi. Ada kucing betina berdiri di ujung Jalan Privet Drive, tapi sama sekali tak kelihatan ada peta.
Rupanya tadi cuma khayalannya. Pasti itu tipuan cahaya. Mr Dursley mengejapkan mata dan memandang ulang kucing itu.
Si kucing balas memandangnya, Saat Mr Dursley berbelok di sudut dan meneruskan perjalanan, dia memandang kucing itu lewat kaca spionnya. Kucing itu sekarang sedang membaca papan jalan yang bertuliskan Privet Drive—bukan, bukan membaca melainkan memandang papan jalan itu, kucing itu tidak bisa membaca peta atau papan jalan. Mr Dursley menggelengkan kepalanya dan mencoba melupakan kucing itu.
Selama mengendarai mobilnya ke kota, yang dipikirkannya hanyalah pesanan bor dalam jumlah besar yang akan didapatnya hari itu.
Tetapi menjelang masuk kota, bor tergusur keluar dari pikirannya oleh sesuatu yang lain. Sementara terjebak macet seperti biasanya, dia melihat banyak orang berpakaian aneh.
Orang-orang yang memakai jubah. Mr Dursley tak tahan melihat orang yang berpakaian aneh-aneh—dandanan anakanak muda jaman sekarang! Dia kira jubah bloon ini sedang mode. Dia mengetuk-ngetukkan jarinya pada kemudi mobil dan matanya menatap serombongan orang aneh yang berdiri cukup dekat. Mereka sedang berbisik- bisik dengan tegang. Mr Dursley sebal sekali melihat bahwa dua di antara mereka sama sekali tidak muda lagi. Yang pakai jubah hijau zamrud itu bahkan lebih tua dari dia! Kelewatan benar! Tetapi kemudian terlintas di benaknya bahwa mereka mungkin sengaja berdandan seperti itu—mereka pastilah sedang mengumpulkan dana entah untuk apa—ya, pasti begitu. Kendaraan-kendaraan mulai bergerak, dan beberapa menit kemudian Mr Dursley tiba di tempat parkir Grunnings, pikirannya kembali dipenuhi bor.
Mr Dursley selalu duduk membelakangi jendela di kantornya di lantai sembilan. Jika tidak, mungkin sulit baginya untuk berkonsentrasi pada bor pagi itu. Dia tidak melihat burungburung hantu terbang berseliweran di siang hari, meskipun orang-orang lain di jalan melihatnya. Orang-orang itu melongo dan menunjuk-nunjuk ketika burung-burung hantu tak putus-putusnya beterbangan Sebagian besar dari mereka belum pernah melihat burung hantu, di malam hari sekalipun. Tetapi Mr Dursley melewatkan pagi yang normal, tanpa gangguan burung hantu. Dia berteriak pada lima orang yang berbeda. Dia melakukan beberapa pembicaraan telepon penting dan berteriak beberapa kali lagi. Hatinya sedang senang, sampai waktu makan siang, ketika dia memutuskan akan melemaskan kaki dan berjalan ke toko kue di seberang jalan.
Dia sudah lupa sama sekali pada orang-orang berjubah, sampai dia melewati serombongan lagi di sebelah toko kue. Dia mendelik gusar kepada mereka. Dia tidak tahu kenapa, tetapi mereka membuatnya resah. Rombongan yang ini juga berbisik-bisik tegang dan dia sama sekali tidak melihat satu pun kotak pengumpul dana. Saat melewati mereka lagi dalam perjalanan kembali ke kantor, dia mendengar beberapa kata yang mereka ucapkan.
"Keluarga Potter, betul, begitu yang kudengar..."
"... ya, anak mereka, Harry..."
Mr Dursley langsung berhenti. Ketakutan melandanya. Dia menoleh memandang mereka yang berbisik- bisik itu, seakan mau mengatakan sesuatu, tetapi tidak jadi.
Dia cepat-cepat menyeberang jalan, bergegas naik ke kantornya, dengan galak menyuruh sekertarisnya agar tidak mengganggunya, menyambar teleponnya, dan sudah hampir selesai menghubungi nomor rumahnya ketika dia berubah pikiran. Dia meletakkan kembali gagang telepon dan mengelus-elus kumisnya sambil berpikir... tidak, dia bodoh. Potter bukan nama yang tidak umum. Dia yakin ada banyak orang bernama Potter yang mempunyai anak bernama Harry. Kalau dipikir-pikir lagi, dia malah tidak yakin keponakannya bernama Harry.
Dia bahkan belum pernah melihat anak itu. Siapa tahu namanya Harvey. Atau Harold. Tak ada gunanya membuat cemas Mrs Dursley. Dia selalu jadi cemas kalau nama adiknya disebutsebut. Mr Dursley tidak menyalahkannya-—kalau dia sendiri punya adik seperti itu... tapi, orang-orang yang memakai jubah itu...
Sulit baginya untuk berkonsentrasi pada bor sore itu, dan ketika meninggalkan kantornya pada pukul lima sore, dia masih cemas sehingga menabrak orang di depan pintu.
"Maaf," gumamnya, ketika laki-laki tua yang ditabraknya terhuyung nyaris jatuh. Sesaat kemudian baru Mr Dursley menyadari, laki-laki itu memakai jubah ungu. Dia kelihaiannya sama sekali tidak marah ditabrak sampai hampir jatuh.
Sebaliknya, dia malah nyengir lebar dan berkata dengan suara melengking yang membuat orang-orang yang lewat menoleh, "Jangan minta maaf, Sir, karena tak ada yang bisa membuatku marah hari ini! Bergembiralah, karena Kau-Tahu-Siapa telah pergi akhirnya! Bahkan Muggle seperti Anda pun harus ikut merayakan hari yang amat sangat membahagiakan ini!"
Dan laki-laki tua itu memeluk pinggang Mr Dursley, lalu pergi.
Mr Dursley berdiri terpaku di tempatnya. Dia baru saja dipeluk oleh orang yang sama sekali asing. Seingatnya dia juga disebut Muggle, entah apa artinya itu. Dia jadi bingung. Dia bergegas ke mobilnya dan pulang, berharap bahwa semua tadi hanya khayalannya. Ini sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya, karena dia orang yang tak suka berkhayal.
Ketika mobilnya meluncur masuk ke pekarangan rumah nomor empat, yang pertama kali dilihatnya— dan ini tidak membuatnya bertambah lega—adalah kucing betina yang telah dilihatnya pagi tadi. Kucing itu sekarang duduk di atas tembok pekarangannya. Mr Dursley yakin itu kucing yang sama. Dia punya tanda yang sama di sekeliling kedua matanya.
"Shuh!" Mr Dursley mengusirnya.

my prettyboy #2


“Ini”Jawab Cakka sambil memberikan sebuah gantungan kunci, yang bebentuk menara Eifell
“Ayo pergi ke halte bus”Kata Cakka sambil menarik tanganku

-Sesampainya di Halte Bus- 

“Duh hari ini panas sekali”Keluh Cakka
“Ya hari ini memang sangat panas, dan aku juga bingung kenapa di hari yang panas ini kita harus menemani ray dan Alvin jalan-jalan?”Kataku kesal
“Halah, tapi kau senangkan bisa jalan dengan Alvin”kata Cakka ngeledek
“Hah lupakan lah”Sambarku malas
“Oh itu busnya, ayo kita naik”Kata Cakka senang 

-Sesampainya dikampus- 

“Oik kau lagi ya, yang menyetir”Perintah Cakka “Nae”jawabku patuh
Lalu akupun mulai masuk mobil, dan mengendarai mobil ini. Disepanjang perjalanan Cakka lebih banyak diam ,  mungkin ia lelah. Cakka
“Yah terserah kau saja deh”Kata Cakka pasrah
Hari-hariku pun ku lewati bersama, Perempuan jadi-jadian ini, siapa lagi kalau bukan Cakka Nuraga. Hm tak terasa sudah genap 1 tahun, aku kuliah di universitas ini. Hm tapi aku masih harus belajar 7 bulan lagi untuk meraih gelar sarjanaku.
“Oiik”Teriak seseorang mengagetkanku
“Alvin memanggilmu”Bisik Cakka ditelingaku
“Selamat pagi Oik, dan Cakka, Mianhe maksudku Cinderella”kata Alvin sambil tersenyum
“Pagi Alvin, ada apa?”tanyaku bingung
“Hm hari ini ada pertandingan sepak bola dilapangan kampus, dan aku adalah salah satu pemain intinya. Hm aku harap kalian bisa datang, untuk memberikan ku semangat. Hm pertandingan dimulai, selesai jam kuliah. Bagaimana? kalian bisa datang tidak?”Tanya Alvin
“Hm boleh nantik kami pasti akan kesana”Jawabku senang
“Okay, jangan lupa kesana ya. Selesai Kuliah”Teriak Alvin, sambil berjalan menjauh
“Kupikir Alvin juga menyukaimu..”Kata Cakka Senang
“Apa-apaan sih,ngaco aja”Jawabku kesal
“Huh, aku jadi iri padamu, aku ingin menjadi wanita seperti mu  Oik”Kata Cakka sedih
“Sudahlah, jadi laki-laki juga enak kok, sini aku beri tahu kelebihanmu”Kataku Sambil merangkul Cakka

-Selesai Jam Kuliah- 

“Cepat Oik, kita tidak boleh terlambat”Kata Cakka terburu-buru
“Iya tunggu dulu”Jawabku panik, sambil merapihkan barang-barangku
“sudah ayo cepat”Kata Cakka sambil menarik tanganku
“Hah kau ini”Jawabku sambil memakai tas

-Sesampainya Dilapangan- 

“Wah ternyata Alvin mempunyai banyak penggemar”Kataku kagum
Nae, dia kan tampan, pintar, kaya, salah satu anggoa klub sepak bola lagi,s angat sempurna”Kata Cakka lebay
“Halah kau ini,lebay sekali sih”Jawabku sambil tertawa
“Hello Oik, And My Cinderella”Sapa Ray hangat
“Eh ada Ray Oppa. Hm Kok Oppa gak ikut bertanding”Tanya Cakka heran
“Hahaha, aku bukan aggota klub sepak bola, tapi aku anggota mading”Jawab Ray sambil tertawa
“Oh jadi tulisan-tulisan di mading itu buatan Oppa?”tanya Cakka lagi
Ani, bukan hanya buatanku, tapi buatan anggota klub juga” Jawab Ray lagi
“Oh begitu, eh skornya udah berapa ni?”Tanya Cakka lagi
“Hm masih 0-0 kok, pertandingan baru dimulai. Hm Oik, kamu suka nonton bola”Jawab Ray, sambil bertanya kepadaku
Ani”jawabku ketus
“Oik, sopan sedikit pada Ray Oppa”kata Cakka sambil menginjak kakiku

my prettyboy #1


_Happy Reading_

“Bagaimana? Aku sudah terlihat cantik kan?”tanya seoraang namja yang sedang memandangi bayangan dirinya disebuah kaca.
“Cakka sadarlah! Kau ini laki-laki, bukan perempuan. Jadi berhenti berdandan dan bersikap seperti perempuan”jawabku sebal
“Oik, kau kan tahu aku lebih senang jadi perempuan, jadi bagaimana? Aku cantikkan?”tanya Cakka lagi.
Nae, kau sudah kelihatan cantik.Ayo kita berangkat”jawabku sambil mengambil tas,dan mulai keluar dari kamar. Aku dan Cakka adalah teman sejak SMP, dan sekarang kaami kuliah di Universitas yang sama, satu jurusan pula. Dia (Cakka) suka menginap dirumahku, orang tua kami adalah rekan bisnis. Cakka mempunyai wajah yang cantik, seperti wanita, terkadang aku iri padanya, karena wajahnya sangat cantik.
“Oik, kau yang menyetir ya”kata Cakka memerintah
Ani, kau yang harus menyetir”Jawabku galak
“owala hari ini aku lelah, kau saja yang menyetir”Kata Cakka sedikit memohon
“Hah, selalu saja aku, yasudah mana kuncinya?”Kataku sebal
Lalu Cakka melemparkan kunci mobilnya. Kamipun berangkat ke kampus kami tercinta, kami mahasiswa baru disana , baru 3 bulan belajar disana, tapi Cakka sudah terkenal dengan julukan “Preety Boys”,dia sangat bangga dengan julukan itu.
“Yeah, kita sudah sampai. Ayo turun Oik”Katanya mengajakku turun
Nae, tunggu sebentar”jawabku malas
Lalu kamipun keluar dari mobil,dan menunju kekelas kami.Kami mengambil jurusan Arts, Cakka juga sangat pintar membuat puisi, dan cerita dongeng, dia juga sangat senang dipanggil “Cinderella”. Hih itu sangat mengerikan.
“Hey Cakka”teriak seseorang memanggil Cakka
“Oh kau,ada apa Alvin? Kan aku sudah pernah bilang, panggil aku Cinderella”jawab Cakka protes
“Eh ada Oik, hello Oik”sapa Alvin kepadaku,tidak peduli terhadap kata-kata Cakka
“Oh hallo Alvin, apa kabar”jawabku basa-basi, Alvin adalah teman aku dan Cakka, pertama kenal saat aku tak sengaja menabrak senior dan menjatuhkan makanannya,terus makanannya tumpah kebajunya, malah bajunya putih,terus kayaknya makanannya panas, soalnya ada asap-asapnya gitu, senior itu udah maki-maki aku, suddenly Alvin datang dan minta maaf sama senior itu, eh ternyata senior itu kenal ama alvin, terus senior itu berhenti maki-maki aku. Huft untung ada alvin.
“Oh kabarku baik kok, kalau kamu sendiri bagaimana?”jawabnya basa-basi juga
“Eh stop deh, Alvin aku lagi ngomong sama kamu tau”Teriak Cakka , ngagetin
“Aduh Cakka, gak usah teriak-teriak,aku kan gak budek”Kata Alvin, sambil tutup kuping
I’m fine too, alvin”jawabku sok inggris
“Eh Alvin,jangan lupa call me Cinderella, okay?”kata Cakka lagi
Nae, aku akan mengingatnya. Yasudah aku kekelas dulu ya, bye Cakka,eh Cinderella, and bye bye oik”kata Alvin sambil berjalan pergi dan melambaikan tangan
Aku hanya tersenyum dan melambaikan tangan juga. Lalu Cakka mulai marah-marah,karena Alvin tidak memanggilnya Cinderella. Aku sih hanya manggut-manggut saja,mendengar omelannya. Akhirnya kami sampai dikelas,kelas belum begitu ramai, hanya ada beberapa mahasiswa yang sedang duduk dan ngobrol bersama temannya. Aku dan Cakka memilih duduk dipojok dekat jendela.
Hello My Cinderella”teriak seseorang dari luar keras
“Oh hello”jawab Cakka senang.Dia pasti senang sekali,karena hanya ada Satu orang yang mau memanggilnya Cinderella di kampus ini, ya orang itu bernama Ray. Mahasiswa aneh dari jurusan IPA.Kami bertemu dia, saat aku menabrak senior dikantin, ia juga ikut menolong ku. Lalu ia menyapa Cakka, awalnya ia pikir Cakka seorang wanita,dan ia terlihat sangat kaget waktu aku bilang kalau Cakka itu laki-laki, mungkin ia sudah menyukai Cakka kali ya?.
“Baru datang?”tanya ray sambil menghampiri kami
Nae, kau sedang apa disini?”tanya Cakka senang
“Sedang menunggumu dan Princess kita”jawab Ray, sambil tersenyum
Princess kita? Siapa? Apa dia lebih cantik dariku?”tanya Cakka bingung
Ani, dia tidak lebih cantik darimu,tapi setidaknya dia wanita, bukan wanita jadi-jadian seperti kau”jawab Ray bercanda, tapi kata-katanya berhasil membuat Cakka sedih

saranghanda "LASTPART"


       -LastPart-

Ia menutup mulutnya dengan tangan lalu berlari pergi meninggalkanku. Ku kejar dia, tapi tanganku ditarik oleh Shilla, “Oppa! oppa tidak boleh pergi!”
Ku hempaskan tangannya, tak memperdulikannya yang terus berteriak memanggil namaku. Aku berlari mengejar Oik, tapi ia sudah naik ke dalam taksi. Sial! Aku segera kembali lagi ke rumah, mengambil motorku. Terlihat, Shilla masih ada di rumahku. Ia terus menahanku untuk tidak pergi. Aku sudah muak dengannya! Ku bentak dia, “CEPAT PULANG! KAU SUDAH BERTINDAK KETERLALUAN HARI INI!”
Aku segera menaiki motorku dan mengemudikannya dengan kecepatan tinggi.

  -Rumah oik

Aku masuk ke dalam rumahnya, kulihat dia ada di kamarnya. Aku mendengar suara tangisan, dia menangis. Dan itu semua karna aku. Pintu kamarnya terbuka, aku memasuki kamarnya. Segera kupeluk tubuhnya dari belakang, ia menoleh ke arahku, lalu menghempaskan tanganku yang ada di bahunya.
“Chagiya, mianhe” ucapku menyesal
“pergilah oppa, aku ingin istirahat.” Ucapnya dingin padaku
Aku duduk dihadapannya, menatap wajahnya,”dia yang menciumku lebih dulu, aku mendorongnya keras. Kau tadi juga melihatnya dengan jelas kan.” belaku
“tapi tetap saja, kau terlalu lemah, bahkan seorang wanita bisa mencuri ciuman darimu. Itu artinya kau bodoh!” hujatnya padaku
“benar! Aku memang bodoh! Aku terlalu lemah! Tapi kau juga bodoh, kenapa bisa mencintai pria bodoh sepertiku!” ucapku
“yaaaak, kau ini! Malah balik mengataiku! Kau sedang salah! Seharusnya kau minta maaf!” ucapnya kesal

“ne, baiklah aku mengaku salah. Kau boleh menghukumku!”

“baik, aku akan menghukum oppa….” kata-katanya terhenti karna aku menutup mulutnya dengan jari telunjukku.
“biar aku yang menentukan hukumannya” tawarku
“aniya, bagaimana bisa seperti itu! Tidak aku yang menentukannya!” tegasnya padaku.
Tanpa pikir panjang aku mendekatkan wajahku padanya, “chagiya, kau tidak merindukanku. Hee? Bibirku ini sudah sangat rindu dengan sentuhanmu. Cepat berikan!” godaku padanya
“hhh..hhh…oo..oppaa… apa maksudmu? Menjauhlah dariku. Kau terlalu dekat.” Ucapnya
“chagiya, kenapa mukamu memerah. Aku tau, kau juga menginginkannya kan?” kataku dengan senyum evil di wajahku.
“Oppa!” baru satu kata yang ia keluarkan, aku sudah menempelkan bibirku di bibirnya yang mungil itu. Dia membalas ciumanku dan mengalungkan tangannya ke leherku. Aku tersenyum, “benar kan, kau menikmatinya” ucapku di sela-sela ciuman.
Dia terlihat sangat malu, lalu memukul kepalaku dengan bantal. “Jangan bicara yang bukan-bukan! Siapa yang menikmati?!” ucapnya lalu beranjak pergi ke luar kamar.

Aku mengikutinya, tapi langkahku terhenti ketika ada suara dari balik pintu. Aku membuka pintu dan

BLAAAAAKKK BUUUUUKKKKK