-LastPart-
Ia menutup mulutnya dengan tangan lalu berlari pergi meninggalkanku. Ku kejar dia, tapi tanganku ditarik oleh Shilla, “Oppa! oppa tidak boleh pergi!”
Ku hempaskan tangannya, tak memperdulikannya yang terus berteriak memanggil namaku. Aku berlari mengejar Oik, tapi ia sudah naik ke dalam taksi. Sial! Aku segera kembali lagi ke rumah, mengambil motorku. Terlihat, Shilla masih ada di rumahku. Ia terus menahanku untuk tidak pergi. Aku sudah muak dengannya! Ku bentak dia, “CEPAT PULANG! KAU SUDAH BERTINDAK KETERLALUAN HARI INI!”
Aku segera menaiki motorku dan mengemudikannya dengan kecepatan tinggi.
-Rumah oik
Aku masuk ke dalam rumahnya, kulihat dia ada di kamarnya. Aku mendengar suara tangisan, dia menangis. Dan itu semua karna aku. Pintu kamarnya terbuka, aku memasuki kamarnya. Segera kupeluk tubuhnya dari belakang, ia menoleh ke arahku, lalu menghempaskan tanganku yang ada di bahunya.
“Chagiya, mianhe” ucapku menyesal
“pergilah oppa, aku ingin istirahat.” Ucapnya dingin padaku
Aku duduk dihadapannya, menatap wajahnya,”dia yang menciumku lebih dulu, aku mendorongnya keras. Kau tadi juga melihatnya dengan jelas kan.” belaku
“tapi tetap saja, kau terlalu lemah, bahkan seorang wanita bisa mencuri ciuman darimu. Itu artinya kau bodoh!” hujatnya padaku
“benar! Aku memang bodoh! Aku terlalu lemah! Tapi kau juga bodoh, kenapa bisa mencintai pria bodoh sepertiku!” ucapku
“yaaaak, kau ini! Malah balik mengataiku! Kau sedang salah! Seharusnya kau minta maaf!” ucapnya kesal
“ne, baiklah aku mengaku salah. Kau boleh menghukumku!”
“baik, aku akan menghukum oppa….” kata-katanya terhenti karna aku menutup mulutnya dengan jari telunjukku.
“biar aku yang menentukan hukumannya” tawarku
“aniya, bagaimana bisa seperti itu! Tidak aku yang menentukannya!” tegasnya padaku.
Tanpa pikir panjang aku mendekatkan wajahku padanya, “chagiya, kau tidak merindukanku. Hee? Bibirku ini sudah sangat rindu dengan sentuhanmu. Cepat berikan!” godaku padanya
“hhh..hhh…oo..oppaa… apa maksudmu? Menjauhlah dariku. Kau terlalu dekat.” Ucapnya
“chagiya, kenapa mukamu memerah. Aku tau, kau juga menginginkannya kan?” kataku dengan senyum evil di wajahku.
“Oppa!” baru satu kata yang ia keluarkan, aku sudah menempelkan bibirku di bibirnya yang mungil itu. Dia membalas ciumanku dan mengalungkan tangannya ke leherku. Aku tersenyum, “benar kan, kau menikmatinya” ucapku di sela-sela ciuman.
Dia terlihat sangat malu, lalu memukul kepalaku dengan bantal. “Jangan bicara yang bukan-bukan! Siapa yang menikmati?!” ucapnya lalu beranjak pergi ke luar kamar.
Aku mengikutinya, tapi langkahku terhenti ketika ada suara dari balik pintu. Aku membuka pintu dan
BLAAAAAKKK BUUUUUKKKKK
baca selengkapnya >>> http://malanovelakses.blogspot.com/2013/03/saranghanda-part-3.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar