3600 Detik #Part 2
OIK membuka matanya dengan perlahan. Mentari sudah terang menyilaukan ketika memasuki jendela kamar tidurnya. Dilihatnya jam dinding. Jam sepuluh lebih lima belas menit. Yang pasti, sekolah sudah dimulai beberapa jam yang lalu. Oik heran mamanya tidak membangunkannya pagi-pagi untuk berangkat sekolah. Yang pasti, jam sekian ini mamanya pasti sudah pergi ke kantor. Pekerjaan selalu lebih penting dari apa pun baginya.
Oik bangkit dari tempat tidurnya dengan perlahan. Selesai mandi dia mengenakan baju seragamnya dan dengan sengaja mengeluarkan bajunya, membuatnya jadi terlihat berantakan. Ketika Oik tiba di sekolahnya, gerbang sekolah sudah ditutup. Dia memanjat gerbang tersebut tanpa masalah.
Sesaat setelah kaki Oik menyentuh lapangan sekolah, seorang satpam berjalan menghampirinya. Sial, gerutu Oik dalam hati. Sebetulnya dia senang-senang saja aksi memanjatnya diketahui seseorang. Semakin cepat dia membuat kesalahan, semakin cepat dia akan dikeluarkan dari sekolah ini. Tetapi perutnya sedang keroncongan karena tadi pagi belum makan. Saat ini yang dipikirkannya adalah bagaimana dia bisa menuju kantin secepatnya.
“Selamat pagi!” kata si satpam. “Apakah kau tidak tahu jika gerbang sudah ditutup, para siswa dilarang memasuki sekolah tanpa seizin guru?”
“Saya tahu kok!” kata Oik dengan enteng. “Pertama-tama Bapak akan menanyakan nama saya, lalu melaporkan saya pada guru piket hari ini, kemudian guru tersebut akan menentukan hukuman untuk saya.”
Si bapak satpam mengerutkan keningnya. Baru kali ini dia menemui seorang murid yang tidak merasa bersalah setelah melakukan pelanggaran sekolah. Dilihatnya Oik dari atas sampai bawah dengan teliti.
>>>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar