Author: Zanuridia Ista
“Oik aku senang banget…aku udah jadian ama Alvin.”
“Kapan…?”
“Kemarin Ik, dia nembak aku di taman sepulang sekolah.”
“Selamat ya Vi, aku ikut bahagia.”
“Iya Ik, aku pergi ke kantin dulu ya…Alvin udah nunggu.”
Sahabatku bergegas ke kantin meninggalkanku pada jam istirahat. Namaku Oik Cahya Ramadlani, biasa dipanggil Oik dan dia adalah teman sekelasku, Sivia. Hari itu adalah hari kedua sahabatku pacaran dengan Alvin. Aku ikut bahagia. Dia adalah sahabatku satu-satunya dari SMA 12 Harahap yang kuliah di universitas ini. Ya jelas sekali jika kami dibilang sangat akrab.
Tiga minggu berlalu, kehidupanku happy-happy aja, enjoy seperti biasa. Entah mengapa beberapa hari ini aku merasa jauh dari Sivia. Hanya bicara dengannya saat di kelas, selain itu aktivitasnya selalu bersama Alvin. Alvin..Alvin, dan Alvin. Nama itu terlantun jelas dibenakku. Perasaan yang tidak enak dan bayang-bayang kelam menyelimuti pikiranku. Ah…mungkin aku berlebihan.
Hari ini aku benar-benar nggak mood. Suasana mencekam mencapai puncak. Aku merasa bete apalagi ketika berbicara dengan mereka.Aren,Dea,dan Shilla. Kerjaan mereka bergosip saja seharian ini. Dan topik mereka itu lho yang bikin aku tidak tahan berlama-lama di kampus. Hore…akhirnya mata kuliah terakhir usai. Merdeka dalam jiwa sekarang.
Aku berjalan menyelusuri selasar kampus menuju pintu gerbang. Di perjalanan aku bertemu dengan seseorang. Ya…seseorang itu adalah Acha, adik tingkat ajaran baru yang baru masuk kira-kira sebulan. Dia gadis yang cerdas, cantik, dan pandai bergaul. Dia menyapaku dengan mengucapkan “kak” serta senyuman manis dari bibirnya. Aku yang sedang menunggu jemputan waktu itu hanya bisa tersenyum membalas sapa. Gadis cantik itu berjalan di depanku menuju tubuh jalan raya. Badan mungilnya semakin jauh semakin mengecil di hirup pemandangan. Hiruk pikuk bunyi kendaraan di jalanan berdebu. Kemudian gadis itu hilang bersama pria tampan berkendaraan motor besar yang memboncengnya ke keramaian kota. Ada kemiripan di garis wajah mereka. Mungkin itu dikarenakan jodoh. Begitulah gosip yang beredar tadi.
Seperti biasa sepulang sekolah sopir pribadiku datang menjemput.
“Pak, adik mana? Kok jemput Oik duluan?” tanyaku agak heran.
“Adik nggak latihan drama sore ini non,” jawab pak sopir.
“Oh...kalo gitu kita lansung pulang ke rumah aja,” kataku dengan lembut.
baca selengkapnya >>> http://malanovelakses.blogspot.com/2013/03/the-most-beautiful-memory.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar