3600 Detik #Part 4
3600 Detik #Part 4
SEMINGGU kemudian Cakka melihat Oik sedang menulis sesuatu di taman sekolah pagi-pagi sekali. Cakka menyentuh pundak Oik dengan telunjuknya.
“Nulis apa kau?” tanyanya ingin tahu.
Saat Cakka melihat buku fisika di depan Oik dan coretan tangan gadis itu di kertas kecil, Cakka akhirnya mengerti.
“Heh, kau bikin contekan ya!”
“Ya!” ujar Oik sambil tersenyum.
Cakka mendesah kecewa. “Buat apa sih kau lakukan itu?”
“Aku kelupaan belajar semalam!” kata Oik.
“Tapi itu bukan alasan supaya kau boleh menyontek!” kata Cakka lagi sambil cemberut.
“Ayolah!” kata Oik bercanda. “Memangnya seumur hidup kau belum pernah menyontek?”
Cakka menggeleng. “Tidak pernah!” jawabnya serius.
Entah mengapa Oik yakin Cakka mengatakan yang sebenarnya. “Kau harus mencobanya kapan-kapan. Aku bisa mengajarimu supaya tidak tertangkap!”
“Dengar, sampai kapan pun aku tidak akan pernah menyontek. Aku lebih menghargai orang yang jujur walaupun nilainya jelek.”
“Bukankah lebih baik kalau kau dapat nilai bagus tanpa ketahuan bahwa kau menyontek!” kata Oik masih bercanda.
“Aku tidak bisa menyakinkanmu untuk tidak menyontek, kan?” tanya Cakka akhirnya.
“Ya!” kata Oik menatap. “Begini, Cakka, aku tahu kau kecewa padaku, tapi ulangan ini penting bagiku. Ini adalah ulanganku yang pertama semenjak aku masuk sekolah ini. Kalau aku dapat nilai jelek, Pak Donny pasti akan memberitahu mamaku, dan aku tidak mau mendengar petuah-petuah Mama lagi, oke?!”
“Karena aku tidak bisa meyakinkanmu untuk tidak menyontek…,” lanjut Cakka sambil mencari akal, “bagaimana kalau kita taruhan saja!”
Oik tertarik mendengar usul Cakka. “Taruhan apa?”
>>>
http://malanovelakses.blogspot.com/2013/03/3600-detik-part-4_4314.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar