Sabtu, 16 Maret 2013

saranghanda part 3


Aku berhenti di depan sebuah kamar. Aku melihat nomornya, ini ruangannya. Saat aku membuka sedikit pintu kamar, aku melihat Cakka yang sedang menyuapi Shilla. Aku terkejut melihat itu, lalu tiba-tiba Shilla mencium pipi Cakka.
“Gomawo, Cakka” katanya sok manis
Cakka terlihat begitu kesal, ia segera mengusap pipinya. “Shilla, kumohon jangan lakukan itu!” katanya dengan nada sedikit keras. Shilla hanya tersenyum, “oppa, tiba-tiba aku ingin minum jus. Belikan aku jus oppa” rengeknya manja.

Gadis ini benar-benar membuatku muak! Manja sekali dia! Aku sakit melihat Cakka diperlakukan seperti itu.

“baiklah” jawab Cakka singkat. Melihat Cakka yang akan berjalan ke arah pintu, aku segera berlari dan bersembunyi dibalik dinding rumah sakit. Cakka sudah pergi, itu artinya Shilla hanya sendirian. Kuberanikan diriku melangkah masuk ke dalam ruangannya. Dia melihatku, kemudian dia membuang muka. Sepertinya dia mengenalku, dia terlihat tidak begitu suka padaku.

“untuk apa kau kesini?” tanyanya ketus

“untuk menjengukmu, shilla.”

Dia hanya diam. Aku semakin bingung dengan sikapnya, “shilla, bagaimana keadaanmu?”

“baik” jawabnya jutek tanpa melihat kearahku

“kau ini kenapa? Kau sepertinya tidak senang dengan kehadiranku. Padahal kita baru pertama kali ini mengobrol.”

 Kali ini dia menatapku. Tatapannya begitu dingin padaku, “benar, kita memang baru pertama kali ini mengobrol. Tapi aku tau dirimu, kau! Kau pacarnya Cakka kan?!”

Aku terkejut dengan jawabannya. Jadi dia sudah tau kalau aku pacarnya Cakka. Siapa yang memberitaunya? Cakka kah?

“sebulan yang lalu, aku melihat Rio sedang adu balap dengan Cakka. Dan aku melihatmu ada di sana! Kau memeluk Cakka dengan mesra di hadapan semua orang. Itu membuatku muak! Aku tau kau adalah kekasihnya, tapi itu tidak akan berlangsung lama!” lanjutnya

DEG! Perkataannya barusan membuatku takut. Apa maksudnya tidak akan berlangsung lama?!!

“apa maksudmu, shilla?” tanyaku dengan suara ku yang semakin bergetar

Dia menatapku tajam, “aku akan merebutnya darimu!”

Aku menutup mulutku dengan tanganku, aku tak percaya dia bisa berkata seperti itu padaku. Apa ketakutan yang selama ini mengahantuiku, akhirnya akan terjadi? Tidak! Aku belum siap untuk kehilangan Cakka, aku sangat mencintainya! Aku tidak bisa kehilangan dirinya!

Dia mengalihkan pandangannya, lalu menarik selimutnya, “pergilah! Aku ingin istirahat!” katanya begitu dingin padaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar